Dzat Yang Hidup Dalam Wadah Terbatas


Aku berlindung pada-Mu yaa Robb dari keterbatasan litsanku, dan aku mohon ampun yaa Ghofur dari perkataan yang dusta.

Gaya hidup bebas dan hura-hura / party akan mengarahkan manusia pada titik kekosongan jiwa. Begitu pula mereka yang lebih memilih kehidupan glamor segera menemui titik jenuh. Mengapa bisa demikian? Sebab sudah menjadi kebiasaan / law of nature sejak awal langit dan bumi tercipta. Bagaimana tidak! manusia yang memiliki dua unsur dzat sudah menjadi kebiasaannya pula, dimana kedua unsur ini bila tidak disingkronisasi sesuai kodratnya maka, pasti akan mengalami disturbance.

Bagaimana tidak! Kedua dzat ini akan menuntut haknya, atau membawa manusia pada titik nol, sebagaimana mula dia tercipta, sebagaimana alaqoh / darah yang berubah menjadi daging, kemudian membentuk tulang dan dibalut lagi dengan kulit dan sempurnalah wujudnya, kemudian diberi hidup atau ruh pada jasad tersebut.
Bagaimana tidak! Semua makhluk hidup pasti mengalami ini menjalani kebiasaan yang tak mungkin bisa lepas dari keterkaitan hukum alam / Sunnah.

Gaya hidup yang bebas plus kesenangan sesaat sudah menjadi kebiasaan orang, malu dan apa kata dunia bila tidak!. “lebih baik enjoy ketimbang beban” “lebih memilih senang daripada susah” “lebih dimudahkah ketimbang sulit” “lebih baik kaya ketimbang miskin”. Alasan-alasan ini pasti akan keluar dari mulut manusia. Semua itu hanya alasan, semua alasan itu tidak diperdulikan oleh alam dan hidup itu sendiri. Sebab kehidupan harus mengalami pasang surut, naik dan turun, susah senang, diatas dan dibawah, tanpa harus memilih dan memilah menurut selera masing-masing. Isilah wadah akal sebelum akal itu berfungsi, furqonlah segala sesuatu yang telah di-ilmui agar duduk pada tempatnya tanpa merusak dan mempengaruhi satu dengan lainnya.

Coba lihat ekses yang ditimbulkan oleh gaya hidup bebas plus glamor baru-baru ini cukup membuat public tersentak. Dikarenakan banyak dari mereka yang mengaku dirinya tokoh atau menokoh. Menunjukkan etika yang tak pantas, membuat namanya tercemarpun dia sudah tak lagi perduli. Inilah hasil kebebasan itu, Inilah ciri orang yang hidupnya mengikuti budaya glamor western, yang kehidupan mereka (western) memang tidak mementingkan spiritual dan substansialnya. Party dan hura-hura sudah merebak keseluruh penjuru bumi, kesemua ini dibawa dan diadopsi dari gaya hidup manusia yang tak menyadari dan tak mengilmui dengan ilmu yang benar.

Barat dan Timur bila tidak saling tempur dan mempengaruhi untuk menguasai, maka akan menciptakan keserasian dan keselarasan yang indah, bak malam dan siang, Lautan dan Daratan. Tempat matahari terbit dan terbenam sebenarnya memiliki ciri khasnya masing-masing yang tidak bisa digantikan atau dirubah. Bagaimana terbit dan terbenamnya matahari tidak ada campur tangan manusia. Maka seperti itulah selayaknya budaya masing-masing wilayah/tempat tersebut. Jangan dirusak yang telah ada, tak perlu ikut campur tangan dalam mengurusi kehidupan orang lain. Tak baik bila budaya sendiri diabaikan. Boleh saja mengadopsi budaya barat/western, namun pilihlah yang baik, yang cocok dengan geografis dan kultur ketimuran, begitu pula sebaliknya.

Hakikat hidup bukan menuruti selera, menjalani kehidupan bukan sekedar jalan, bukan sekedar memenuhi kebutuhan jasmani, tidak hanya terbatas ruang dan waktu bumi saja. Sebab semua itu baru satu unsur, baru sekedar memenuhi ego insan semata. Ibarat waktu, anda hanya baru berjalan pada siang hari saja, belum melalui malam dan belum menghadapi sikon pada malam hari. Mungkinkah? Atau bisakah anda memilih dan memilah waktu tersebut? Siang dan malam harus dilalui, susah dan senang hanya sarana membuat kita dewasa, hidup dan matipun hanya tinggal menunggu giliran.

Jika dinamika yang di-ingini maka tidak perlu kehidupan yang hura-hura / party, dinamis itu memang watak manusia dikarenakan ada dzat yang tak terbatas, dzat tersebut berada dalam cangkang atau wadah yang terbatas. Maka sudah sewajarnya dzat / unsur tersebut mendesak untuk mengaktualsisasikan yang memang sudah menjadi sifatnya. Namun bukan berarti keluar dari aturan dzat tersebut. Mengaktualisasikan sumber daya yang tak terbatas pada diri kita harus dengan ilmu dan kedewasaan hidup, agar ruh dalam diri kita tidak menjadi ruh yang penasaran dan terhindar dari ruh yang kentayangan.

Oleh sebab itulah makanya manusia harus senantiasa mengontrol dirinya dikarenakan dzat yang tak terbatas tadi membutuhkan penetralan, agar tidak salah kaprah dan mempengaruhi keseluruhan lembaga / anfus kita sendiri. Daya kontrol sudah menjadi keharusan pada seorang manusia yang didalam dirinya memiliki aqal dan qolbu tuk selalu bisa mengendalikan dan sesuai, selaras dengan dzat yang tak terbatas tersebut.
Mengenal dan mema’rifati diri plus  semua perangkatnya sudah menjadi kewajiban dan tidak bisa tidak. Banyak fungsi pada setiap komponen nafs manusia yang seyogiyanya di kenali. Bahkah Robb itu sendiri memerintahkan kita untuk memperhatikan dan mempelajari asal usul manusia tercipta.
undzur secara etimologi bahasa berarti memperhatikan, meriset dan mengeksplorasi.
Maka sudah seharusnya kita untuk lebih memperhatikan lagi tentang keberadaan semua unsur yang ada pada diri. Setelah kita memperhatikan proses penciptaan tersebut maka kenalilah dirimu yang dho’if.
Keterbatasan atau dho’if pada manusia memang harus ada, sebab dengan adanya sifat dho’if tersebutlah kita menjadi sadar diri serta porsional dan proporsional.
Dan masih banyak lagi perintah langsung dari Sang Maha Aku الله yang sengaja Dia berikan untuk makhluknya agar mau mengambil pelajaran demi terciptanya insan yang sempurna dan paripurna. Yang takkan usang dilanda zaman, takkan larut diterpa badai tetap bertahan dan senantiasa istiqomah.

Author by Fardhie

TAMSILAN YA'JUJ dan MA'JUJ


Aku berlindung pada-Mu yaa Robb dari keterbatasan litsanku, dan aku mohon ampun yaa Ghofur dari perkataan yang dusta.

Disini dan untuk yang kesekian kalinya aku mencoba mengingatkan (indzar) kepada kita semua wahai manusia! makhluk yang diciptakan Allah. Sesungguhnya kita sebagai manusia memang sempurna (laqod kholaqnal insaana fi ah-sani taqwim) tetapi mesti di-ingat kita juga bisa tidak sempurna, atau terinjak bak aspal jalanan/jadi manusia yang terhina, turun serendah-rendahnya (tsumma rodadnaahu-asfala saafilin).

Tulisan ini dibuat mengingat betapa kondisi saat ini, sikon bumi akhir-akhir ini dan janji yang telah dijanjikan dari Sang Pemilik Janji, yang Dia tuliskan buat makhluk-Nya manusia agar selalu berpegang kepada petunjuk-Nya, bimbingan dan tuntunan yang telah Dia nuzulkan kepada kita wahai manusia. Al Qur’an yang terlupakan pesan-Nya yang tersirat mengandung makna yang luas dan kedalaman arti kata perkata khususnya bagi ulul al-bab yang telah di-abaikan oleh seluruh manusia.

Jika kita mencari apa yang dimaksud dengan tembok yang dibangun Dzulqarnain, dan siapa Ya'juj dan Ma'juj, sebaiknya fahami itu sebagai permisalan (tamsil), terbukanya cara berfikir yang keluar dari batasan semestinya, kebebasan hidup yang tidak jelas arah. Perhatikan lafadzh atau kata yang ditandai dalam gambar dibawah ini: QS Al-Kahfi:94
Perhatikan lafadzh terakhir yang digunakan dalam ayat ini (saddan) satu akar kata dengan sudaa,sadada yang berarti bebas lepas dan cara berfikir yang keluar standard. Mengapa para mufasirin menterjemahkan lafadz saddan dengan dinding ?, sebab di-ayat selanjutnya ayat 95 ada lafadz rod’man yang berarti pembatas atau dinding. Lafadz rod’man inilah yang bermakna dinding atau sesuatu yang bisa membatasi

Berkatalah Dzulqarnain: “Apa yang telah diberikan Robbku itulah yang terbaik, maka fa-a’iynuwni bi quwwatin maka tolong / bantu aku dengan kekuatan, akan ku-buatkan untuk kalian dan mereka sesuatu yang bisa membatasi / membentengi”.

Maka, siapa saja yang mencoba keluar batas(fasad) atau melampaui batasan inilah yang dimaksud Ya’juj dan Ma’juj. (bila dikatakan kepada meraka: “jgn membuat fasad / kerusakan dibumi”, merekapun beralasan “sesungguhnya kami ingin membuat perbaikan.” QS Al Baqarah/2:11)

Pada hakikatnya manusia yang dihidupkan tidak akan pernah bisa bebas semaunya sebab ada Qadar / ukuran,format atau batasan (sungguh segala sesuatu yang telah kami ciptakan berada dalam ukurannya QS Al Qamar/54:49).

Hidup dan mati merupakan tanda, tua dan muda merupakan indikasinya, begitu juga pergantian siang dan malam. Kesemua itu adalah alat ukur untuk menghentikan kebebasan yang kalian maksud hai manusia! sebelum terlambat, itu merupakan sarana datangnya kehancuran atau kiamat, sebab itulah Dzulqarnain harus membentengi/ memagarinya.(janganlah kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir…QS Ali 'Imran/3:196)

Manusialah yang mempercepat dan manjadikan kehancuran atau kiamat, seperti yang di katakan atau di indikasikan Malaikat, sewaktu nabi Adam akan diciptakan oleh Allah
(ingatlah ketika Allah pernah berkata kepada para Malaikat: “sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah dibumi”. “Malaikat-pun berkata: “untuk apa Kau jadikan sesuatu yang akan membuat kerusakan dan akan menumpahkan darah…..QS Al Baqarah/2:30).

Benteng atau tembok yang dimaksud Al Qur’an adalah, iman dan keyakinan akan adanya kehidupan selanjutnya. Ketika kebebasan pola fikir manusia ini keluar dari batasannya, maka akan menembus benteng pertahanan Qolbu wadah duduknya iman. (tetapi kamu lebih memilih kehidupan yang fana / dunia, padahal akhirat itu yang lebih baik dan abadi. QS Al A´laa/87:16-17).
Ya'juj dan Ma'juj adalah sifat atau watak dari manusia itu sendiri, sifat dari bani Adam, bukan suku, bukan golongan manapun, bukan pihak lain, melainkan diri kita sendiri dengan gaya hidup yang bebas keluar batas. Oleh karana itu maka perlu ada dinding atau sesuatu yang bisa membatasi kita dari perbuatan jelak yang bisa merusak manusia dan alam.

Sadarilah sebelum kebebasan itu merambat keseluruh bumi (walaupun sedang terjadi!), begitu juga kepada anak-anak kita yang harus diatur, dikawal dan dijaga, bukan dibiarkan bebas keluar batas bermainnya.

Hidup manusia pada hakikatnya ada yang mengawasi jika dia punya Iman maka akan terkawallah hidupnya, jika tidak maka akan dia abaikan pengawasan sang Malaikat,
Ekses dari pengabaian tersebut adalah, menjadi tak tau malu dan tak sadar diri, buta dan dibutakan oleh hawa nafsunya, hawa atau keinginan yang berlebihan tersebut memang membabi buta, membuat kita memandang indah dan baik setiap kesalahan yang kita perbuat (QS Muhammad/47:14).

Gaya hidup manusia saat ini merupakan indikasi betapa telah liar dan barbar manusia menjalankan kehidupannya (baca QS Qaaf/50:25) tidak semua tapi kebanyakan dari kita. Sikap bebas, liar dan barbar inilah Ya’juj dan Ma’juj yang dimaksud Al Qur’an.

Penebangan hingga pembakaran hutan adalah perbuatan merusak (fashadun), lahan-lahan yang dianggap kosong oleh manusia semestinya dilestarikan, dan tidak bisa tawar menawar harus tetap dijaga, bukan malah digantikan dengan segala bentuk bangunan
(janganlah kau patuhi orang-orang yang melanggar batasan, dialah yang membuat fashad / rusak bumi dan tidak mau membuat perbaikan / yushlih. QS Asy Syu'araa'/26:151-152).

Mereka yang berusaha merubah qodratnya dalam fisik maupun substansial, dalam faham dan pola fikir, dalam aqidah dan syari’ah, yang kesemua itu sebenarnya, telah ditetapkan dari awal hingga akhir, dari pertama manusia dicipta hingga kembali kepada Sang Pencipta (Al Kholiq), ketetapan dan kepastian dari Allah Al Qodir adalah kepastian mutlak. Kesalahan besar apabila kita memandang semua itu boleh diganti, ditukar dan dirobah sesuka hati (hawa nafsu), menurut selera dan menurut kemauan.

Dari dahulu hingga kehari ini manusia selalu mencari-cara untuk beribadah dengan baik dan benar, dari awal diutus para Nabi/Rosul selalu terjadi pembangkangan dan merubah,mengganti ajaran,ujaran serta ucapan yang berujung penyesatan dalam tindakan.
Maka ekses dan resikonya akan ditanggung mereka dan manusia sendiri baik yang berbuat jahat maupun korban dari kejahatan orang lain.

Kehadiran para Nabi dan Rosul bukanlah tanpa alasan, penudzulan Kitabullah mulai dari Taurat, Zabur, Injil dan Al Qur’an bukan bersumber dari manusia, bahkan bukan bersumber dari kemauan Nabi atau Rosul yang membawa Kitab tersebut melainkan dari Al Mundzil, Al Mutakalim, Al Hadiy Dialah Allah Al Ahad, cintailah Dia, kembalilah kepada-Nya, jangan pernah kau ragukan keberadaan-Nya yang memiliki dzat Maha tunggal, tinggalkan dan tanggalkan semuanya selain Dia yang kata gantinya adalah huwa.

Kalau dahulu Dia memberikan kesempatan kepada kita untuk bertobat / toba’a yang artinya kembali bersih hanya kepada-Nya, namun sekarang itu mulai Dia pertimbangkan disebabkan oleh mudahnya kau berkata dusta semudah kau lupakan janjimu, semudah anggapanmu, yang seakan mudah kau melangkahkan kaki ketika kau diberi-Nya hak untuk berjalan, namun bukan berarti kaulah yang memperjalankan, semudah kau merubah balik badanmu, seakan kaulah segala-galanya, hawa / keinginanmu yang berlebihan membutakan kau dari padangan yang semestinya terang,jelas dan lugas selayaknya kau memandang bintang / nujum, matahari / syamsi dan bulan / qomar.

Tak ada jalan lagi, tak ada alasan bagi kita untuk mencari-cari kambing hitam, mengkaburkan yang sebenarnya jelas dan terang, menerangkan yang semestinya di-ilmui dengan ilmu yang telah jadi berdasarkan pengalaman hidup, susah senang, diatas dan dibawah, miskin maupun kaya, buta maupun melek, cacat maupun sempurna.

Itulah hidup yang sebenarnya, seharusnya kau syukuri sebelum kita dipersoal dan dipertanyakan oleh-Nya, bagaimana kita menerima dan mempergunakan segala sesuatu yang telah Dia berikan untuk makhluk-Nya. Bumi atau dunia yang fana ini adalah sarana menuju kehidupan yang abadi, oleh sebab itu jangan dianggap ada keabadian dibumi ini, siapun manusia atau makhluk pasti mati, kematian manusia awal menuju babak baru.

Hentikan perkataan yang tak dilandasi ilmu dari Allah Al ‘Alim, berhenti dari kesalahan itulah langkah awal menuju kebenaran. Jujur kepada diri sendiri, menerima dengan lapang dada tanpa harus meronta adalah sikap si mushlih, muslim, mu’min yang mampu menyanggah langit dan menjunjung etika moral yang esensial dari Allah Al Fathir. Inilah benteng pertahanan yang tak akan bisa hancur dan pecah oleh ibtila’ atau try and trial selama menjalani kehidupan. Maka dengan ini Ya’juj dan Ma’juj tidak akan terwujud sebab tidak ada peluang untuk hadir.

Demikian tulisan ini dibuat agar kita manusia selalu objekctif berwawasan dalam memahami dan menghadapi setiap persoalan.

Akhirul kalam: “Kiamat tiba-tiba datang saat bahagia dirasakan manusia, Tercengang akan kenyataan, Tak sadar hidup dunia ini fana”.

Author by Fardhie

IDEOLOGI KETUHANAN


IDEOLOGI KETUHANAN

Sebelum masuk pada tema atau pokok bahasan perlu penulis menggaris bawahi kata yang dipakai dalam judul atau topicalisasi: Ideologi yang menjadi Premis dasar pemikiran atau landasan untuk mengambil kesimpulan/pemahaman. Mengapa penulis lebih memilih kata Ideologi ketimbang Konsep?. Sebab hal yang dibicarakan menyangkut substansial/metafisik yaitu Tuhan. Tentu tidak relevan bila menggunakan kata konsep, sebab konsep yang tadinya hanya boleh atau milik sesuatu yang berhubungan dengan material/fisik. Seperti lazimnya ketika kita ingin mendirikan atau membentuk sebuah bangunan maka kata konsep yang diperlukan ataupun yang tepat dalam pemakaian. Biasanya kata konsep dipakai ketika ada perencanaan atau kerjaan. Kita tidak sedang mengerjai Tuhan, kita tidak lagi merancang dan merencanakan Tuhan. Oleh sebab itu penulis lebih memilih kata Ideologi yang tepat untuk digunakan dalam bahasan ini.

Bila kita bicara atau membahas yang menyangkut dan berhubungan dengan Ketuhanan maka tidak bisa dilepas dari dasar pemikiran atau landasan awal dalam mengambil sebuah kesimpulan: Pertama yang perlu dijadikan acuan adalah manusia, keberadaannya atau law of nature, kemudian Tuhan sebagai objek bahasan yang wujud dan zat-Nya berbeda dengan apa dan siapapun, yang nantinya dasar pemikiran atau premis tersebut haruslah bisa dibuktikan setidaknya mendekati atau tidak melanggar aturan yang ada. Kata mendekati ini penulis menggunakannya sebab yang akan dibahas adalah sesuatu yang diluar jangkauan dan tak terbatas oleh pemikiran manusia, itulah sebabnya kata mendekati saya pakai, namun juga perlu untuk digaris bawahi dengan tidak keluar dari aturan maksudnya adalah keterkaitan atau relevansi manusia dengan keadaannya atau alam semesta. Kita ambil sebuat plot untuk memulai: “Wujud, Esensi dan Keberadaan sesuatu, seperti contoh “Wujud manusia tidak berubah menjadi monyet, atau sebaliknya”. Langit berubah menjadi bumi. Wujud manusia atau kesempurnaan wujud tentu membutuhkan prosesnya masing-masing namun tidak lari dari aturan atau porsi seperti ulat berubah menjadi kepompong kesempurnaan wujudnya adalah kupu-kupu, bukan burung. Larva berubah menjadi Nyamuk bukan Ayam, sebab memang itulah proses kupu-kupu dan nyamuk tentu berbeda dengan proses manusia. Inilah yang saya sebut tidak bertentangan dengan aturan, keberadaan atau law of nature. Maka semua aturan ini yang melandasi pemikiran awal seorang manusia ketika dia ingin mengenal dan memahami Tuhannya. Ketika kita tidak melandasi pemikiran kita tentu akan sangat-sangat berpotensi keluar dan lari dari aturan/porsi yang sedang dibahas. Seperti contoh kalimat yang keluar dari dasar pemikiran: “Tidak ada habis-habisnya” “Tidak akan pernah selesai”. Ini kalimat terpaksa dikeluarkan sebab sudah melebar atau meluas dan lari dari aturan atau sudah melanggar empiris dan logika berfikir,. Sementara kehidupan punya ruang demi membatasi segala sesuatu yang berada didalam ruangan tersebut. Maka tidak perlu dan memang tidak berguna mengeluarkan kalimat “Tidak ada habis-habisnya” “Tidak akan pernah selesai” sementara kita mau dan sepakat harus menyelesaikan setidaknya menuntaskan sesuatu yang menjadi ganjalan, pertanyaan dan persoalan dalam setiap kehidupan yang kita lalui apapun itu. Ini sering terjadi dalam kehidupan manusia disebabkan sesuatu hal tersebut sudah tak lagi bisa dicerna dan dimengerti oleh setiap individu. Keterpaksaan dan Dogmalah yang akhirnya bicara ketika segala sesuatu keluar dari aturan dan empiris. Lagi-lagi tidak porsional dan proporsional, konon kita sebagai manusia mengatakan lebih baik dari “animal”. Maka dimana lagi bedanya manusia dengan binatang ketika semuanya menjadikan cara dan jalan an’aam sebagai landasan kehidupan manusia, apalagi sampai tak berfikir selayaknya manusia yang memiliki daya nalar dan pemikiran bahkan kesadaran (shudur) diatas rata-rata makhluk lainnya. Bebas adalah kodrat binatang (an’aam) bukan manusia (naas), bebas tidak mungkin andaipun kita memaksa untuk digunakan kedalam kehidupan (banyak contoh akibat saking bebasnya). Freedom hanyalah milik Bangsa yang manusianya adalah makhluk bermoral. Freedom bila dikatakan kebebasan harus ada lanjutannya tidak bisa berhenti, bebas dari kemiskinan, bebas dari keterjajahan, bebas dari keterpaksaan, bukan bebas sebebas-bebasnya tanpa aturan. Jangan dilepaskan teks dan konteks dalam setiap kalimat dan perkataan maupun pokok pembahasan. Ketika kita keluar dan lari dari aturan maka, batal dan tak layak dikatakan manusia apalagi untuk membicarakan dan membahas Tuhan.  Kita sering melihat dan mendengar forum diskusi digelar mulai dari pembahasan seputar Keagamaan sampai Ketuhanan, namun semuanya tidak mengarah pada satu titik karena’ memang bukan untuk bermaksud menyatukan titik-titik tersebut, apalagi sampai menyamakan ideologi, walaupun diskusi sebenarnya bisa menemukan titik bahkan bisa menyatukan ideologi andai kita semua berani menerima dengan lapang dada jujur tanpa meronta. Setiap kita pasti merasa memiliki prinsip dan cara berfikir, namun bukan berarti sesuka dan semau kita untuk berfikir, ada syarat dan ketentuan yang harus terpenuhi, ada step dan proses yang mesti dilewati untuk fikiran tersebut bisa menjadi prinsip dan pemahaman. Tidak guna adu argument atau berdebat dengan bermain kata-kata menutupi kesalahan dan membutakan hati hingga melupakan empiris berperan penting dalam diskusi tersebut. Selayaknya setiap individu bertanya pada dirinya apa  hal yang akan dibahas dan yang akan menjadi topikalisasi, sebelum mengambil dan memutuskan, sebelum menjadi prinsip dan keyakinan agar tidak ada keragu-raguan yang membuat bingung dan tersesat. Saya akan ambil sebuah contoh sebelum Tuhan dijadikan pembahasan/topikalisasi. Saya mulai dari: “Siapakah Tuhan” “Mengapa dikatakan Tuhan” “Apa dan bagaimana Tuhan”.  Jawabanya jangan pernah keluar atau melebar dari aturan pembahasan. Ideologi Ketuhanan bukanlah Ideologi kemakhlukan dan bukan jawaban yang menimbulkan pertanyaan. Jawaban tegas, jelas, lugas bahkan tuntas sesuai subjectnya, tidak menambah dan mengurangi. Tuhan adalah.....(versi penulis subject Yang Me…) bukan yang di…. Titik-titik tersebut saya contohkan dengan cipta, kuasa, awal akhir. Dan ketika Tuhan kita katakan atau simpulkan sebagai object yang dicipta, bisakah? Atau adilkah? dan benarkah? jawaban kembali pada syarat dan aturan yang sesuai porsi-Nya, yang sesuai keberadaan-Nya dan law of nature sesuai contoh-contoh diatas tanpa melanggar batas dan ketentuan, jangan di ada-adakan, tak perlu untuk disastra-sastrakan, juga bukan konsep hayalan bak negri dongeng yang tak pernah ada, bukan gambaran bak Superman si-manusia terbang hanya terjadi dalam dunia permainan anak-anak. Ingat topiknya adalah Tuhan Yang Maha bukan seperti maha-maha hayalan yang tak pernah terbukti empiris dan nyaris membuat manusia terkesima dan terpana yang mematikan potensi akal. Analogi boleh dibuat namun bukan Analogi menurut mau dan ego manusia. Konsep silahkan buat namun tidak melanggar aturan yang ada (law of nature). Keterbatasan pasti menyertai namun bukan menjadi alasan untuk menerima bukti dan sejarah bahkan fakta keberadaan lewat gugusan alam semesta yang kesemua tersusun rapi, sesuai, selaras dan sejalan pada poros, tempat, waktu yang semua kita melihatnya dan merasakan segala sesuatu yang telah Dia ciptakan. Pada hakikatnya Tuhan telah memberikan kemudahan kepada manusia agar bisa memahami keberadaan-Nya dengan benar, sebab apabila ideologi dalam memahami hakikat Sang Pencipta sampai salah maka akan merugikan diri kita sendiri. Dari sejak hadirnya Adam kemuka bumi seiring itu pula Dia telah memberikan bekal pada setiap individu untuk mau memperdayakan potensi secara lebih objektif dan mendalam sesuai dengan ketetapan-Nya agar manusia selalu selaras dengan fisik dan substansinya, keselarasan inipun tetap terikat dengan law of the universe. Ketika manusia dan semua peralatan canggihnya tak mampu membuktikan bukan berarti sesuatu yang diriset tidak ada bak bulan sebelum dan sesudah ditemukan dan diriset oleh mereka yang pernah kesana. Jangan nafikan keberadaan sesuatu dikarenakan keterbatasan dan kebandelan manusia untuk bisa menerima dan menjawab apapun yang ingin diketahui. Semua sudah ada, semua telah tersedia, semua tinggal manusia menjalankan dan memerankan sesuai porsi diri dan keberadaannya sebagai makhluk layaknya makhluk yang lain, semua yang ingin diketahui tetap ada disana terbentang luas dan masih banyak menyimpan misteri, namun tak seluas isi di-dalam diri manusia jika saja manusia mau menggunakan aqal dan daya nalar untuk bisa menyentuh qolbi wadah tersimpannya pemahaman agar menjadi keyakinan yang kuat dan tak terbantahkan. Semua ini baru bisa dikatakan Ideology dan Hujjah. Jika semua penjelasan diatas tersebut sudah dimengerti dan terpahami sesuai tempat, waktu dan system yang ada, sebenarnya siapapun pasti bisa mengambil kesimpulan yang sama, yang memberi pengertian untuk sebuah jawaban yang tepat, jelas lagi kokoh bak gunung yang menjulang kelangit menghunjam kedasar perut bumi. Salam bagi kita yang mau menyadari dan menghidupkan potensi aqal demi menyirami wadah yang gersang agar kembali kepada fitrah sebagai makhluk ciptaan Al-Fathir.
NB: Jika pembaca marasa kesulitan memahami tulisan ini, sebaiknya coba baca tulisan saya sebelumnya yang berjudul Asal Usul

اللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُور

Author by Fardhie

Makna Ismun IBRAHIM

Aku berlindung pada-Mu yaa Robb dari keterbatasan lisanku, mohon ampun pada-Mu dari perkataan yang dusta.

Salam untuk kita semua sebagai makhluk ciptaan.
 
Menelusuri makna yang terkandung dalam ismun/nama atau predikat dari seorang Nabi dan Rosul Allah: Ibrahim/Abraham gelarannya adalah bapak para Nabi/Rosul, bapak semua agama, sahabat Allah(Kholilullah/). Darinyalah banyak melahirkan keturunan manusia-manusia terpilih yang qualify cikal bakal munculnya Nabi atau Rosul, asal mula lahirnya ajaran, ujaran dan aliran bahkan agama. Ibrahim/Abraham sangat-sangat menjadi patokan dan rujukan para Nabi Allah dalam mengajarkan,menyampaikan dan membina akhlak manusia hingga menjadi sifat yang hasanah/baik, yang etis dan estetis menurut dan sesuai ketentuan, kemauan Tuhan Sang Pencipta(kholiq). Seluruh manusia mengenalnya, semua agama menghormatinya, tak pernah dunia mencatat/menulisnya tanpa rasa penghormatan dan pujian. Selayaknya dengan semua gelaran dan penghormatan itu kita bisa memetik dan kembali menapak tilasi perjalanannya dalam membawa ajaran,ujaran hingga menjadi sebuah system dan keyakinan. QS Al Baqarah ayat 130 “waman yarghabu 'an millati ibraahiima illaa man safiha nafsahu walaqadi isthafaynaahu fii alddunyaa wa-innahu fii al-aakhirati lamina alshshaalihiina. Dan tdk ada yg benci kpd agama Ibrahim, melainkan org yg membodohi dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya  di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk or yang saleh. Selayak itulah harusnya seluruh manusia memahami Ibrahim/Abraham, setidaknya untuk tak menafikan, mendustai dan mengenyampingkan risalah lewat dakwah yang telah ia ajarkan. QS Ibrahim ayat 35 inna awlaa alnnaasi bi-ibraahiima lalladziina ittaba'uuhu wahaadzaa alnnabiyyu waalladziina aamanuu waallaahu waliyyu almu/miniina”. Sesungguhnya org yg paling dekat dengan Ibrahim adalah org-org yg mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), beserta org-org yg beriman,  dan Allah adalah Pelindung semua org-org yg beriman .Namun lagi-lagi keterbatasan pola pikir, olah rasa dan daya nalar seseoranglah yang menjadikan namanya, gelarnya dan ajarannya menjadi terpecah dan berbeda-beda. Padahal secara implisit maupun eksplisit namanya sudah menjawab, dan memberi makna atau arti tersendiri yang memang Tuhan Sang Maha dari segala yang memiliki maha, telah menentukan dan menetapkan namanya sebagai tolak ukur untuk mencari dan memahami siapa dan bagaimana Ibrahim atau Abraham. Dialektikalnya saja yang berbeda namun bukanlah makna dan maksud dari namanya boleh disalah artikan atau dirubah sedemikian rupa hingga menjadi samar, kabur dan hilang dari makna aslinya. Ibrahim/Abraham sebenarnya diambil dari dua kata yang berbeda makna, ib/ab(أب) yang artinya bapak/ayah, rahim (راهيم) yang diambil dari ismun atau predikat Allah Ar-Rahim(Pengasih/Pemurah). Bila digabungkan akan memiliki artian bapak/ayah yang penuh asih/penyayang. Nama Ibrahim bila ditinjau dari bentukan katanya adalah kata majemuk yang sudah menjadi satu dalam dirinya, dalam kepribadian sang pemilik nama tersebut. Nama ini adalah gelar dari hasil sikap hidup sang pemilik nama tersebut dalam menjalani dan mengabdi/ibadah kepada Tuhannya demi memenuhi syrat/kewajiban sebelum menerima/menuntut hak sebagai seorang makhluk ciptaan untuk itu perlu ada try and trial. Ketika dia lulus dalam ujian tersebut maka terciptalah namanya/predikat untuk dikenakan kepada diri seorang manusia yang telah berhasil meraih, mengambil perhatian dan merebut penilaian Sang Maha Aku, Sang pencipta alam semesta(الله), Dialah penentu segalanya yang telah menghargai dan memuji makhluk ciptaan-Nya dikarenakan kecintaan sang makhluk kepada Sang Kholiq, antara yang Memandang dengan yang Dipandang, antara yang Dicintai dan yang Mencintai. antara Pesuruh dan Majikan, Pemuja dengan Pujaan, antara Hamba dengan Tuannya, ‘Abid(abdi) dan Al Ma’bud(tempat mengabdi). Inilah mengapa Ibrahim/Abraham dijadikan sosok yang harus dikenal dan dicontoh oleh seluruh manusia dan para Nabi/Rosul setelahnya. Namanya bukan sekedar nama, namanya bukan tanpa makna, namanya bersumber dari Tuhannya, namanya datang dikarenakan sifat dan wataknya yang welas asih(Budha), pengasih(Kristen), santun dan penyayang(Islam). nama yang diberikan kepadanya merupakan penghargaan Tuhan Pemilik langit dan bumi, Tuhan penata alam semesta, Tuhan dari segala dzat ketuhanan(الله) tidak salah memilihnya, tidak pernah ragu untuk memujinya. Khusus memaknai namanya lewat kalimat dan lafazh Ibrahim/Abraham, dari dua akar/asal kata: Abi/Aba/Abu(أب) dan Rahim/Rohima(timur). Raham atau Rahman(barat). Terserah yang mana satu yang mau diambil pemahaman, Rahim dan Rahman=Pengasih dan Penyayang. Yang mana munusia suka silahkan saja, sebab yang mana satu tetap saja kedua sifat/nama tersebut diambil dari predikat dan sifat Tuhannya(الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ). Bukan dari kemauan dirinya sendiri, tidak datang dengan sendirinya, tidak berawal dari budaya dimana dia dilahirkan. Menurut para pakar sejarah nama aslinya adalah Abram. Inilah yang saya sebut diawal bahwa nama/ismun Ibrahim/Abraham memiliki makna yang secara implisit dan eksplisit menjawab dan mengejawantahkan semua persoalan yang akan datang kelak, semua perselisihan diantara manusia dan mereka yang menggeluti bidang kitab dan ilmu bahkan sejarah. Itulah mengapa Tuhannya telah memagari dan memberi isyarat yang itupun hanya bisa ditembus atau dijangkau dengan kemurnian, ketulusan dan tanpa rasa benci, yang tak sempat mencari kelemahan dan cacat pada pihak luar atau orang lain selain kesibukan yang diarahkan pada dirinya sendiri. Inilah kriteria yang bisa memahami makna yang tersirat dan tersurat dalam nama/ismunnya Ibrahim(timur) atau Abraham(barat). Namanya melahirkan banyak pengertian dan analogi yang beragam, bahkan dijadikan icon sosok yang luar biasa atau dewa(Brahma/Brahman). Selayaknya kita dan seluruh manusia mau meneliti dengan hati yang lapang dan tak perlu dengan sikap keras membatu dan rasa cemburu yang berlebihan, sebenarnya nama dan predikat seseorang bisa sangat memberikan penjelasan dan pencerahan atas segala sesuatu yang dipertentangkan, yang dipersoal. Semua itu bisa terjawab, bisa terselesaikan tanpa harus melanggar universal of nature atau natural law, maka perlu pengamatan secara Empiris dan Rasionalisme, Fisik maupun Metafisik setelah melaui semua proses ini maka diperlukan satu lagi tolak ukur yang sangat menentukan yaitu: Kefitrahan sebagai seorang makhluk atau dalam arti lain ketulusan mencari kebenaran bukan karena pengakuan dunia dan orang, melainkan pengakuan dan pujian dari Tuhan/God(رَبّ), dzat Sang Maha Aku(الله). Keluruhan akal budi dan pekerti, kehalusan akhlak dan sikap dalam menjalani kehidupannya telah membuat nama Ibrahim/Abraham diabadikan, bahkan Ibrahim menjadi ke-shohian/ke-absahan dalam ibadah umat Islam.
للَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ، وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala aliy Muhammad kama sholaita ‘ala Ibrahim wa ‘ala aliy Ibrahim,innaka hamidum majiid, Allahumma baarik ‘ala Muhammad wa ‘ala aliy Muhammad kama baarokta ‘ala Ibrahim wa ‘ala aliy Ibrahim,innaka hamidum majiid.

Para Nabi/Rosul setelah Ibrahim, mereka semua sengat menjadikannya panutan dalam membina dan membangun akhlak yang baik, yang sesuai aturan dan kodrat sebagai makhluk, tanpa harus melampaui dan merontai ke-dho’ifan sebagai manusia. Ibrahim telah menjadi idola para Nabi/Rosul bahkan menjadi panutan dan sanjungan sang hataman nabiyyin(Muhammad). Nabi Ibrahim beserta kelurga(privasi) telah membangun Millah(ajaran, agama, pertinggal) bagi seluruh manusia terutama Nabi atau Rosul selanjutnya sebagai penunjuk arah dan sebagai pemersatu, system dan aqidah para Nabi/Rosul seterusnya begitu juga seluruh manusia di-ardhun(bumi). Akhirul kalam “Selawat untuk para Nabi/Rosul seiring itu pula Salamku untuk semua abdi-abdi Allah”.
Allahu 'aliymun bidzaatis shuduwr
Link terkait: Kompasiana

Author by Fardhie

Israel dan Palestina



Perang dan peperangan, bela dan pembelaan, hancur dan kehancuran, rusak dan kerusakan inilah yang sedang terjadi di belahan timur laut tengah yang menjadi wilayah perbatasan yang membatasi Mesir dan disebelah Utara ada Israel, Pertikaian dan perhelatan antara penguasa dan pembesar wilayah. Hal ini bukan tercipta tanpa sebab, peperangan terjadi dikarenakan ada yang diperebutkan, atau setidaknya ada yang dipertahankan. Lantas apa yang diperebutkan?, sehingga harus mengorbankan darah dan nyawa?, lagi-lagi inilah konsekwensi dari yang namanya peperangan, pertempuran. Namun dilain pihak ada yang keberatan, ada yang berunjuk sara, ups…rasa. Mengatas namakan pembelaan terhadap nyawa dan orang-orang yang menjadi korban. Ini dalih semua orang, inilah pembelaan semua penguasa dan pembesar tersebut, ketika sudah terjadi, disaat pertempuran sedang berlangsung,(hemmm). Coba analogikan saja siapakah yang bisa kita salah dan benarkan disaat tinju sedang berlangsung?, adakah penilaian tersebut berlaku?, atau bolehkah kita menilai salah satu pemain tinju tersebut kejam?. Analogi ini dibuat untuk mengingatkan dan menyadarkan kita akan pentingnya mengantisipasi atau menyelesaikan penyebab bukan ekses demi ekses. Maka mengapa ketika peperangan dalam bentuk genjatan senjata beramai-ramai manusia berontak?, mengapa ketika salah satu pemain tinju cedera/terluka, bahkan ada yang wafat, tidak ada yang heboh?. Maka bagi Penulis seperti itu jugalah peperangan yang terjadi diseluruh dunia tidak terkecuali Gaza, Israel dan Mesir. Namun jika disangkut pautkan dengan etnis, religion dan kemanusian, cocokah?, atau sudah paskah?,. Lantas mengapa tidak begitu pula menilainya disaat permainan Tinju sedang berlangsung?. Adilkah?. Yang mana dan bagaimanapun sudut pandang orang yang diluar arena apapun arena tersebut, husss….jangan ikut campur, kalaupun ingin ikut emang tahu permasalahan?, emang ngarti apa yang sedang terjadi?,  (Perasaan lu). Kalau mengerti dan memaksa juga untuk membantu, Hajar…..bisa lewat komentar, atau kirim email, atau kirim senjata, bisa juga lewat yang tertera di bawah ini(heemm). Yang terpenting jangan kirim dosa, jangan menambah runcing dan rancu. Kalaupun mengerti duduk perkara dari sebuah persoalan belumlah tentu bisa merubah, takkan menjadi sebuah perubahan, bila akar permasalahan belum diselesaikan. Bila penyebab dari penyakit tersebut belum disembuhkan. Takkan tumbuh subur sebuah pohon bila akarnya tak sehat/bagus. Takkan jadi daging bila yang dimakan tak bergizi, kalaupun jadi hanya sebatas mengantisipasi rasa lapar seketika. Sedikit saya berbagi ketika di suatu pengajian/forum diskusi bersama beberapa teman dan jemaah yang hadir. Seputar permasalahan yang menyangkut hal tersebut. Maka dari salah satu audiens bertanya: Ust...Bang...Pak(memanggilku) Oy..Yups…(saudku). Bagaimana kita menanggapi atau setidaknya bersikap terhadap peperangan tersebut?(Tanya audiens). Sejauh mane kite tanggap, dan se-sanggup ape kite birsikap”(jawabku), Oh gitu!(kata si-penanya). Langsung deh nyerocos dari sebelahnya audiens lain, Wah kok sepertinya kita yang disini hanya bisa bicara?, (komentar audiens yang lain). Emang(jawabku). Wah! salah tempat dong ane!(Kata yang lain pula). Makanye ente kalau mau masuk/ikut sebuah forum diskusi/pengajian lihat-lihat dong?(jawab audiens lainnya Moderator). Lalu lihat-lihattan tuh audiens/jemaah, sambil tersenyum, ada yang merengut, ada juga yang tertawa(aneka ragam perwujudannya). Bagaimana mungkin saya(penulis) bisa menyelesaikan semuanye komentar dan pertanyaan yang ade di forum ini!, apalagi persoalan Gaza vs Israel!. Yang bertanya sudah saya jawab!, Lagian perlukah sebuah komentar ditanggapi?. Bisakah mempengaruhi sebuah komentar apalagi komentar penonton yang berada diluar lapangan memberikan kontribusi kepada mereka yang dilapangan?. Begitu pula sebuah pertanyaan yang dimana seyogiyannya sebuah pertanyaan maupun komentar haruslah mendekati hal yang dipersoal, harus sesuai, harus tepat. Seperti yang sering saya katakan, orang yang sakit giginya, yaa dibawa ke dokter gigi toh?, mungkinkah dibawa kedokter kandungan?. Coba tenang-tenang menyimak jawaban saya, khususnya jawaban yang tadi saya jawab(jawaban yang diatas). Ust...Bang…Pak…(audiens memanggilku) Setidaknya atau seminimalnya dari segi kemanusiaannya, masak sih! tidak ada yang bisa kita buat?,, apa kek! Seperti bantuan, dalam bentuk finansial, yang mereka butuhkan(tandas audiens). Bantu! Hajar! Lagian siapa yang melarang?(jawabku). (namun perlu di-ingat!) Kalau alasanmu mereka yang di Palestine dan Gaza adalah saudara-saudara kita yang lagi tertimpa musibah/masalah, “bagaimana dengan mereka yang didekatmu/disekitar atau tetangga kita disebelah, apakah mereka juga bukan saudara?”.

Tulisan ini hanya sekedar melatih tangan dan pikiran, agar tetap konsisten dan berbagi agar bisa untuk menempatkan setiap hal/urusan/persoalan, ada ruang dan waktunya sendiri. Sebab tak  ada kesalahan dan tak ada benar bila didalam medan peperangan, yang ada hanya pertahanan, pertempuran, dan konsekwensi yang sesuai dengan garis-garis demarkasi yang sudah ditentukan dalam hukum perang. Jangan mencoba mencari siapa yang salah apalagi mencari siapa yang benar, khususnya dalam peperangan yang terjadi di Gaza. Emang baru kali ini ape?. Selain itu penulis juga ingin menggaris bawahi kalau yang terjadi di Gaza bukanlah Jihad Fisabilillah, melainkan jihad kepentingan yang ingin berkuasa. Jangan coba pula disangkut pautkan dengan segala macam bentuk teori, baik konspirasi dan illuminati. Sebab teori yang banyak beredar bisa-bisa saja dan boleh-boleh saja dibuat, namun yang perlu di-ingat perang sudah terjadi, dan akan terus terjadi bila manusianya yang disana dan disini tidak mau sadar, tidak memiliki system proteksi diri yang kuat, dan tidak memiliki ilmu yang cukup untuk menjadi bekal dalam menjalani kehidupan ini. Inilah akibat dari menganggap enteng/remeh terhadap manfaat dan mudharat sebuah ilmu, sebab dengan ilmu orang bisa sukses dengan ilmu juga orang bisa meraih pencerahan, namun bila ilmu tak dibarengi dengan moral/akhlak yang bisa memprotek dari segala bentuk kejelekan dan kejahatan, maka yang ada hanya kehancuran, kesia-siaan. Proteksi diri/Takwa mudah untuk diucap, namun tak semudah mereka melakukan ke-ajulaan(gegabah,tergesa-gesa). Ini dampak dari gaya hidup manusia abad ini yang hobinya mencari kesalahan dan kelamahan orang lain, dan berusaha menghindar sejauh-jauhnya ketika dalam kondisi susah, dan melemparkan kesulitan serta mencari kembing hitam kepihak lain selain dirinya sendiri. Semua itu adalah akibat bukan sebab dari sebuah persoalan, yang tak perlu dibesar-besarkan, ekses akan tetap ada baik sekecil dan sebesar apapun. Hukam alam yang kausalitanya perlu untuk dicermati. Tidak hanya sampai disitu, melainkan seluruh manusia di-planet bumi ini haruslah belajar menghargai bahwa alam dan makluk lainnya juga butuh hidup, dan berkesinambungan. Jika munusia selalu berfikiran dan berpandangan bahwa dialah satu-satunya komunitas yang tinggal dibumi ini, sehingga setiap segala persoalan yang terjadi selalu disangkutkan pada kemanusiaannya saja. Maka inilah yang perlu diperbaiki.

Links terkait: Israel dan Palestina

اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُور
Allah yang paling mengetahui isi hati
Author by Fardhie